Kabupaten Soppeng, 29 Desember 2022 - Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam melestarikan budaya dan bahasa daerah. Di Kabupaten Soppeng, sebuah inovasi bernama Kelas OGI (Kelas Berorientasi Bugis) telah berhasil meningkatkan pembelajaran bahasa daerah Bugis di lingkup SDN 100 Dare Bunga bungae. Inovasi ini dilakukan sebagai respons terhadap rendahnya minat siswa dalam mempelajari bahasa daerah Bugis, yang tercermin dari capaian nilai mereka yang masih di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) atau di bawah 80.
Latar belakang dari inisiatif Kelas OGI ini adalah untuk memperkenalkan aksara lontara sejak dini kepada siswa, dengan harapan dapat menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa Bugis. Aksara lontara merupakan ciri khas unik dari bahasa Bugis yang berbeda dengan aksara Latin. Oleh karena itu, penting untuk melestarikan aksara lontara ini. Namun, kendala yang dihadapi adalah kurangnya guru mata pelajaran khusus, keterbatasan perangkat pembelajaran, serta kurangnya metode dan model pembelajaran yang menarik untuk bahasa daerah Bugis.
Tujuan utama dari inovasi Kelas OGI adalah meningkatkan nilai bahasa daerah Bugis siswa hingga mencapai KKM dan menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa Bugis. SDN 100 Dare Bunga bungae menjadi tempat implementasi inovasi ini, dengan melibatkan 208 peserta didik (105 laki-laki dan 103 perempuan). Dampak yang signifikan telah dirasakan setelah penerapan inovasi ini. Rata-rata nilai siswa meningkat menjadi 75 pada tahun 2021 dan 80 pada tahun 2022. Selain itu, jumlah siswa yang tidak mengenal aksara lontara menurun dari 87% atau sekitar 180 siswa menjadi 20% atau sekitar 41 siswa.
Inovasi Kelas OGI telah memberikan manfaat yang signifikan
dalam pembelajaran bahasa daerah Bugis. Selain meningkatkan rata-rata nilai
siswa dan penguasaan aksara lontara, inovasi ini juga menciptakan pembelajaran
bahasa daerah Bugis yang menyenangkan dan menarik. Tidak hanya siswa yang
merasakan manfaatnya, tetapi juga orang tua mereka. Orang tua merasa memiliki
wadah dan referensi untuk membantu anak-anak mereka belajar bahasa daerah Bugis
di rumah. Beberapa orang tua juga merasa terbantu dengan pengenalan aksara
lontara karena sebagian besar dari mereka sudah lupa penggunaan aksara ini.
Berikut adalah beberapa hasil yang telah dicapai melalui inovasi Kelas OGI:
1. Rata-rata nilai mata pelajaran bahasa daerah Bugis meningkat menjadi 80.
2. Persentase siswa yang tidak mengenal aksara lontara meningkat hingga 80%.
3. Metode pembelajaran menjadi lebih menarik dengan adanya fitur 4B (Bercerita, Bernyanyi, Bermain, Berlari).
4. Dalam forum KKG (Kelompok Kerja Guru), dibahas metode dan model pembelajaran dalam RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) Bahasa Daerah.
5. Hasil supervisi dari Kepala Sekolah meningkat mencapai 80 karena perangkat ajar bahasa daerah Bugis dilengkapi dengan metode pembelajaran yang beragam dan menarik.
6. Prestasi siswa meningkat, terutama dalam lomba bercerita dan lomba puisi bahasa Bugis. Salah satu siswa berhasil meraih prestasi lomba puisi tingkat provinsi dan mewakili provinsi Sulawesi Selatan ke tingkat nasional.
7. Partisipasi siswa dalam lomba juga meningkat, termasuk lomba bercerita, pidato, dan puisi pada Festival Tunas Bahasa Ibu Tingkat Kabupaten. Mereka berhasil meraih juara 2 untuk lomba bercerita dan juara 2 untuk lomba puisi.
8. Peran orang tua dalam mendukung pembelajaran juga meningkat. Inovasi Kelas OGI menjadi wadah dan referensi bagi mereka dalam mendampingi anak-anak belajar di rumah. Fitur 4B dan pengenalan aksara lontara sangat membantu orang tua.
Dengan kesuksesan inovasi Kelas OGI dalam meningkatkan pembelajaran bahasa daerah Bugis, diharapkan upaya ini dapat diadopsi dan diterapkan di berbagai sekolah lainnya di Kabupaten Soppeng. Melalui pendekatan yang menarik dan menyenangkan, generasi muda di Soppeng dapat tetap melestarikan bahasa daerah Bugis sebagai bagian penting dari identitas dan warisan budaya mereka.