Kabupaten Soppeng, 29 Juni 2022 - Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan yang sering terjadi di Kabupaten Soppeng, khususnya di wilayah Kecamatan Ganra. Pada tahun 2018, tercatat sebanyak 12 orang terkena DBD, yang meningkat menjadi 23 orang pada tahun 2019, dengan 2 di antaranya meninggal dunia. Hal ini menunjukkan bahwa angka kejadian DBD masih tinggi di Kabupaten Soppeng, terutama di Kecamatan Ganra.
DBD adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti. Untuk memutus rantai perkembangbiakan nyamuk, langkah-langkah pencegahan 3M (Menguras, Menutup, dan Mengubur) perlu dilakukan. Namun, kesadaran masyarakat dalam melakukan 3M masih rendah, terutama di Kecamatan Ganra. Selain itu, kondisi geografis kecamatan ini, yang diapit oleh dua sungai panjang dan rawan terjadinya banjir, meningkatkan potensi perkembangbiakan nyamuk.
Menghadapi permasalahan tersebut, Puskesmas Ganra melakukan inovasi dengan meluncurkan program Ganra Bersepeda. Program ini bertujuan untuk mencegah terjadinya kasus demam berdarah, meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memberantas jentik nyamuk, serta menurunkan kasus DBD di Kecamatan Ganra. Inovasi ini melibatkan sekolah sebagai mitra dalam gerakan pencegahan dan pemberantasan DBD.
Salah satu tujuan umum dari inovasi Ganra Bersepeda adalah menurunkan kasus demam berdarah di wilayah Kecamatan Ganra. Tujuan khususnya meliputi pencegahan terjadinya demam berdarah, meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pemberantasan DBD melalui 3M, meningkatkan angka bebas jentik (ABJ), serta menurunkan kasus demam berdarah di kecamatan tersebut.
Program Ganra Bersepeda memberikan manfaat yang signifikan. Bagi institusi kesehatan, program ini dapat menurunkan angka kejadian DBD, meningkatkan ABJ, mengurangi biaya pengendalian DBD seperti pengadaan fogging, serta meningkatkan kerjasama lintas sektor dalam penanggulangan masalah kesehatan. Bagi institusi pendidikan, program ini dapat meningkatkan kesadaran guru dan siswa dalam pencegahan dan pemberantasan DBD, melibatkan siswa sebagai pemantau jentik di sekolah dan di rumah, serta memberikan pendidikan kesehatan sejak dini. Bagi pemerintah kecamatan dan desa, program ini dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat demam berdarah, serta meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Bagi masyarakat, program ini memberikan manfaat berupa peningkatan derajat kesehatan, penurunan angka kesakitan dan kematian akibat demam berdarah.