Kabupaten Soppeng - SMPN 5 Marioriawa di Kabupaten Soppeng,
Sulawesi Selatan, meluncurkan inovasi baru dalam mengatasi permasalahan sampah
organik di lingkungan sekolah. Dengan memanfaatkan sumber daya alam yang
melimpah, sekolah ini berhasil menciptakan sebuah solusi yang tidak hanya
menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga mendorong pendidikan lingkungan yang
lebih baik.
Latar belakang SMPN 5 Marioriawa yang dikelilingi oleh lingkungan yang asri dengan banyaknya pepohonan dan tanaman penyejuk ruangan menjadi motivasi bagi guru dan peserta didik untuk belajar tentang bercocok tanam secara sederhana. Pada pekarangan sekolah, terdapat tanah yang ditanami singkong, pohon pepaya, dan pisang, yang menginspirasi guru dan peserta didik untuk memanfaatkan hasil samping dari tanaman tersebut dalam pembelajaran.
Namun, dampak dari keberadaan pepohonan di sekolah juga menimbulkan permasalahan baru, yaitu penumpukan sampah daun, ranting, dan rumput liar yang terus bertambah. Selain itu, pertumbuhan cabang tanaman yang perlu dipangkas juga menambah jumlah sampah hijau yang semakin meningkat. Situasi ini menjadi perhatian kepala sekolah, Rahmatiah, dan memicu terbentuknya inovasi pembuatan limbah organik.
Sampah organik yang dihasilkan di sekolah terutama berasal dari sisa makanan, sayuran, kulit buah, rumput, daun, dan ranting. Kondisi ini menyebabkan tingginya jumlah sampah organik yang berserakan di lingkungan sekolah, yang pada gilirannya dapat mencemari lingkungan dan menjadi sarang vektor penyakit.
Untuk mengatasi permasalahan ini, Rahmatiah mengajak guru dan peserta didik untuk merancang dan melaksanakan inovasi pembuatan limbah organik, yaitu membuat pupuk kompos dari sampah hijauan daun dan rumput liar. Tujuan utama dari inovasi ini adalah menjaga kebersihan lingkungan sekolah, melatih peserta didik dalam pembelajaran ilmu pengetahuan alam, dan menghargai lingkungan.
Melalui inovasi ini, peserta didik dapat belajar cara membuat kompos dari bahan-bahan organik yang ada di sekitar mereka. Pembuatan kompos menjadi media pembelajaran yang efektif dan juga memberikan manfaat nyata dalam pengurangan sampah, perbaikan kualitas dan kimia tanah, penghematan biaya pembelian pupuk, dan menjaga kebersihan lingkungan sekolah.
Kompos yang dihasilkan dari inovasi ini dapat digunakan untuk memupuk tanaman di sekolah atau sebagai bahan campuran dalam media tanam. Selain itu, pembuatan kompos juga mengurangi polusi udara akibat pembakaran sampah, mengurangi risiko penyebar.