Kabupaten Soppeng, 24 Juni 2022 - Tuberkulosis (TBC) merupakan salah satu gangguan pernapasan kronis yang disebabkan oleh infeksi Bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di seluruh dunia. Menurut WHO, setiap detik ada satu orang yang terinfeksi tuberkulosis, dan satu orang yang terinfeksi dapat menularkan 10-15 orang di sekitarnya.
Di Indonesia, TBC merupakan masalah serius dan negara ini menempati peringkat kedua di dunia setelah India dengan jumlah kasus mencapai 969.000 kasus dan 141.000 kasus kematian. Di Kabupaten Soppeng sendiri, Data dari Dinas Kesehatan melaporkan bahwa terdapat 403 kasus TBC baru dengan angka kematian 42 kasus pada tahun 2022.
Puskesmas Cangadi, salah satu pusat kesehatan di Kabupaten Soppeng, melaporkan adanya 30 kasus TBC pada tahun 2022. Pada tahun 2020, penemuan kasus TBC sangat rendah dengan hanya 4 kasus, dan masih banyak masyarakat yang tidak menyadari bahaya TBC dan pengobatannya. Situasi ini memicu terbentuknya inovasi bernama Basmi Pelakor Gastu.
Basmi Pelakor Gastu merupakan singkatan dari "Bersama Kami Petugas Lacak Kesehatan Orang Terduga Tuberkulosis" yang dikembangkan oleh seorang perawat di UPTD Puskesmas Cangadi. Inovasi ini termasuk dalam kategori pemberdayaan masyarakat dan melibatkan semua pihak terkait dalam bidang kesehatan untuk mencapai target SPM (Standar Pelayanan Minimal). Inovasi ini bertujuan untuk meningkatkan penemuan kasus TBC, mendampingi penderita dalam pengobatan, serta mengurangi faktor risiko penularan dan stigma buruk terhadap TBC.
Wilayah UPTD Puskesmas Cangadi memiliki jumlah penduduk sekitar 18.020 jiwa dengan luas wilayah sekitar 63 meter persegi. Meskipun terdapat beberapa kantong TBC di wilayah tersebut, penemuan kasus terduga dan kasus TBC sangat rendah, yang berdampak pada pencapaian SPM. Hal ini disebabkan oleh tingginya stigma buruk dan diskriminasi terhadap penderita TBC di masyarakat, sehingga sulit untuk mendeteksi kasus-kasus tersebut. Pada tahun 2020, hanya terdapat 4 kasus penemuan (12,5%) dari target 32 kasus, dan penemuan terduga tuberkulosis juga rendah dengan hanya 80 terduga, sehingga tingkat pencapaian SPM hanya 28,6%.
Salah satu keunggulan dari inovasi Basmi Pelakor Gastu adalah percepatan dalam penjaringan terduga TBC dan penemuan kasus TBC pada semua kelompok usia, mulai dari bayi-balita, anak-anak, remaja, dewasa, hingga lansia. Tujuan utama inovasi ini adalah meningkatkan penemuan kasus TBC, meningkatkan angka kesembuhan pasien, mengurangi penularan, menekan angka kematian, mencapai target SPM, serta meningkatkan peran serta masyarakat dalam penemuan kasus dan pengobatan yang tepat waktu.
Inovasi ini juga menjadi wadah bagi tenaga kesehatan, kader kesehatan, lintas program, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan lintas sektor terkait untuk bekerja sama dalam mencapai eliminasi TBC pada tahun 2030 dan mengubah status Puskesmas Cangadi dari wilayah kantong TBC.
Basmi Pelakor Gastu memiliki manfaat yang signifikan dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat dengan mendekatkan akses pelayanan TBC yang sebelumnya sulit dijangkau karena keterbatasan jumlah petugas dan kesulitan memberikan edukasi pada masyarakat. Melalui peran kader, tokoh masyarakat, dan tokoh agama sebagai petugas dari pihak lain, inovasi ini berhasil mengubah keengganan masyarakat dalam mengakses layanan TBC menjadi kemauan untuk berpartisipasi aktif dalam program ini.
Usaha bersama ini juga meningkatkan pengetahuan masyarakat dan petugas lainnya untuk mengurangi stigma buruk dan diskriminasi terhadap penderita TBC yang selama ini menjadi hambatan dalam pengendalian TBC.
Sejak diluncurkan, Basmi Pelakor Gastu terbukti memberikan dampak signifikan dalam program pengendalian TBC. Terjadi peningkatan jumlah penjaringan terduga dan penemuan kasus TBC, peningkatan angka kesembuhan, penurunan risiko lupa minum obat dan penghentian obat, serta mengurangi risiko penularan TBC. Selain itu, program ini juga meningkatkan efisiensi penggunaan obat TBC, mempercepat program pengobatan dengan durasi enam bulan, serta mengurangi jumlah penderita yang tidak menyelesaikan program pengobatan dalam waktu yang lama.
Basmi Pelakor Gastu berhasil mendeteksi terduga TBC sejak dini, memutus mata rantai penularan TBC di masyarakat, mencegah penularan kepada kontak yang sehat, dan menemukan TBC laten pada anak-anak usia di bawah 5 tahun. Yang tidak kalah penting, inovasi ini juga membantu penderita TBC dan keluarganya dalam mengakses layanan kesehatan yang dibutuhkan.
Dengan adanya inovasi Basmi Pelakor Gastu, diharapkan penemuan kasus TBC di wilayah UPTD Puskesmas Cangadi akan terus meningkat, angka kesembuhan akan bertambah, dan penyebaran penyakit TBC dapat ditekan. Melalui kolaborasi antara tenaga kesehatan, kader kesehatan, tokoh masyarakat, dan lintas sektor terkait, target eliminasi TBC pada tahun 2030 dapat tercapai, dan Puskesmas Cangadi akan bebas dari status kantong TBC.